HAI INI AKU !
Haloo kamu-kamu semua. Ketika aku menulis posting ini dilayar laptop sebelah kanan bawah tertera angka 0:11. Yang berarti sudah hari Sabtu. Sebenarnya ada hal yang ingin aku ceritakan kemarin. Kemarin itu berarti 11 menit yang lalu kan? Bukan tenggang waktu yang cukup jauh lah untuk tetap bercerita mengenai hari kemarin. Hari 11 menit yang lalu.
11 menit yang lalu, adalah hari dimana sebenarnya kita akan bertemu. Hari dimana kamu berjanji akan datang dan akan berjumpa denganku. Hari yang sangat aku tunggu karena kita aku akan melepas rindu. Rasa rindu ini awalnya hanya muncul di sudut bibir saja, hanya mampu aku ucapkan dalam bisikan saja, hanya mampu aku dengar sendiri saja. Tapi setelah sekian lama, rindu itu mulai merasuki otak, merasuki setiap sudut pikirku. Rindu itu mulai menggrogoti bagian tubuhku satu persatu. Secara fisik aku tidak terlihat sedang mengidap suatu penyakit, tetapi hati ku sedang merasakan efek dari penyakit yang aku derita. Masuk tahap-tahap akhir, stadium 4 biasa orang menyebutnya.
Aku sudah menunggu-nunggu hari itu, hari yang mungkin mampu menjadi obat terampuh dari penyakit kronis yang aku derita. Aku memikirkan, kamu akan memakai baju warna apa? Apakah merah seperti biasa? Aku juga memikirkan, kamu akan memakai tas apa? Apakah tas hitam seperti biasa?
Ketika pagi hari, aku membuka mata dengan sangat bersemangat. Mulai membayangkan kamu datang dan memberikan senyuman. Senyuman mu pun aku rindukan. Senyumanmu klasik. Seyuman ketulusan. Senyuman yang mampu membuat orang salah paham. Ya! mungkin aku sudah salah paham mengenai hal itu, senyumanmu mampu menghadirkan banyak persepsi dan mungkin akulah orang yang paling salah paham dan punya persepsi paling muluk.
Ketika siang hari, semakin mendekati waktu yang kamu janjikan. Aku merasa ada deguban seperti deburan ombak yang datang bertubi-tubi dalam hatiku. Rasanya beda sekali, bukan deguban yang membuatmu grogi ketika kamu mempersiapkan diri untuk presentasi didepan kelas. Bukan. Bukan deguban seperti ketika kamu menunggu namamu dipanggil untuk diberikan kertas nilai hasil ujian oleh dosen. Bukan. Bukan deguban ketika kamu ketahuan berbohong. Bukan.
Deguban itu mampu membuatmu collapse dan terjerembab ke tanah. Ketika orang-orang melihat dirimu, mungkin mereka tidak akan melihat bahwa kamu sedang dalam keadaan sekarat, tetapi ketika teman terbaikmu melihat matamu dalam-dalam, mereka pasti tahu bahwa kamu sedang berada di titik terbawah dalam hidupmu, mereka pasti akan tahu bahwa kamu sedang terbaring lemas dan tak mampu berbuat apa-apa.
Aku menerima berita dari teman, bahwa kamu tidak bisa memenuhi janji yang kau tulis di pesan singkat, beberapa hari yang lalu kepadaku. Kamu tidak memberi kabar kepadaku bahwa kamu tidak bisa datang hari itu. Aku kecewa. Kecewa pada diriku yang tidak mampu menyaring perasaanku. Kecewa pada diriku yang terlalu berharap banyak. Kecewa bahwa aku begitu lemah dan mudah terperangah. Aku hanya bisa seperti itu ketika berhadapan denganmu. Iya hanya dengan kamu saja. Entah mengapa. Entah aku yang tidak tahu, atau aku yang terlalu takut untuk tahu.
Sahabat baikku berkata, tidak ada orang yang bisa hidup tanpa harapan. Jujur. Aku setuju dengan perkataan sahabatku. Tapi mengapa ke-setuju-an ku itu tidak mampu membuat aku kuat? Mengapa ke-setuju-an ku justru menjerumuskanku terlalu dalam dengan memberikan harapan yang begitu besar kepada dirimu?
Mungkin ekspektasi ku terlalu tinggi.
Atau mungkin saja mentalku yang terlampau lemah untuk menerima keadaan.
Hingga akhirnya hari itu berlalu begitu cepat. Begitu banyak tawa yang aku rasa karena aku bersenda gurau dengan teman-teman yang ada. Begitu banyak pelajaran yang aku terima hari ini. Begitu banyak nasehat yang secara tidak langsung menyentuh hatiku. Tetapi semua tawa, pelajaran dan nasehat itu akan terlihat sangat jauh berbeda ketika kamu ada kemarin.
Karena dalam diam pun, kamu mampu memberikan perbedaan situasi yang begitu jelas.
Diam mu mengartikan banyak hal untuk ku.
Diam mu mampu memberikan banyak pernyataan.
Entah aku yang terlalu sok tahu dengan mengartikan diam mu secara diam-diam atau karena memang hanya aku yang terlalu perasa.
Aku pikir yang kedua lebih mengambil persentase banyak. Tujuh puluh lima persen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar