Rabu, 07 Desember 2011

Kecewa, dikecewakan, mengecewakan.



HAI INI AKU !

Selamat malam kamu semua. Kamu yang masih sempat membaca blog ku. Kamu yang tidak bosan melihat blog ku, walaupun aku tak tahu siapa saja kamu-kamu sekalian yang telah membaca blog ku. Aku hanya ingin menyapa kalian semua. Selamat malam.

Sudah menjelang tengah malam. Jam digital di layar komputer portable ku menunjukkan pukul 23:17. Aku masih belum bisa tidur. Yeah! aku berbohong kali ini, bukannya aku tidak bisa tidur, tapi karena sekarang belum masuk jam tidur ku. Entah sejak kapan aku menjadi terbiasa tidur lebih dari pukul 00:00 WIB.

Ok selesai sudah berbasa-basinya, maklum aku orang Indonesia Asli yang secara tidak langsung punya bakat basa-basi yang kadang bisa bikin keadaan jadi benar-benar basi. Kembali ke judul blog ku malam ini.

Kecewa, dikecewakan, mengecewakan.

Kecewa merupakan kata dasarnya. Menurut link artikata.com kecewa artinya kecil hati; tidak puas (krn tidak terkabul keinginannya, harapannya, dsb); tidak senang; 2 cacat; cela; 3 gagal (tidak berhasil) dsb.
Mungkin yang paling tepat dengan yang aku rasakan sekarang adalam poin yang ke 3. Kecewa karena GAGAL.
Aku gagal. Aku gagal mengendalikan perasaanku. Aku gagal menjadi sosok "aku" yang biasanya. Aku yang biasanya bisa mengendalikan dan menyembunyikan perasaan yang ada dalam diriku, aku yang tidak mudah tersulut api kemarahan, aku yang mampu menenangkan pikiranku dan akhirnya terlihat sebagai "aku" yang selalu ceria juga tidak terlihat memiliki pikiran yang berat.
Biasanya "aku" tidak dapat menjadi "aku" yang biasa kaian lihat ketika aku telah berada dikamar yang dingin dan sepi, sendirian. Aku bisa menangis sejadi-jadinya ketika aku merasa gagal. Aku bisa teriak dalam keheningan ketika aku merasa gagal. Aku bisa bunuh diri dalam kehidupan ketika aku merasa gagal. Aku yang bisa menyayat urat nadiku tanpa terasa sakit dan keluar cairan merah dari dalamnya. Aku yang hanya mau melumat segala permasalahanku sendirian.

Tetapi hari ini tidak. Aku berbeda. Belakangan ini aku mampu tiba-tiba terdiam dalam keramaian. Aku mampu tiba-tiba berhenti tertawa sementara teman-teman hanyut dalam guyonan satu sama lain. Aku mampu tiba-tiba pergi entah kemana dan kembali lagi ketempat semula. Aku yang tidak takut sendirian, sementara biasanya teman-teman selalu menemaniku.

Puncaknya adalah ketika aku mengecewakan seorang temanku. Temanku merasa harus melakukan sesuatu yang biasanya tidak akan kutolak. Sesuatu yang nantinya dapat membuatku tersenyum apabila melihat hasil akhirnya. Sesuatu yang tidak merugikan sama sekali. Tetapi entah mengapa aku merasa aku "tidak disana". Aku sedang tidak berada di titik itu.

Akhirnya teman baikku pun merasa kecewa atas sikap yang aku ambil. Ya... Aku layak mendapatkan perlakuan seperti sekarang. Sesuatu yang jarang atau seingatku belum pernah aku rasakan dari sosok si teman baik. Aku kecewa pada diriku teman. Aku kecewa karena aku tidak mampu menata perasaan ku sedemikian rupa. Aku kecewa pada diriku sendiri.
Aku menangis teman. Ya aku menangis tanpa mengeluarkan air mata. Aku mampu melakukan itu dengan tetap tertawa terbahak-bahak sementara kau menatap layar ponselmu, tetapi telingamu tetap mendengarkan, aku tahu itu teman, aku tahu.

Yang sekarang mampu aku lakukan adalah MEMINTA MAAF. Permintaan maaf tulus dari diriku.
Tadi aku mengirimkanmu sebuah pesan singkat, untuk meminta maaf atas perlakuan bodohku. Kemudian aku me non-aktifkan sinyal di telepon genggamku. Aku takut teman. Aku takut sekali. Aku takut kalau kamu kecewa terhadapku.
Kecewa itu sangat sulit untuk diobati teman. Sulit sekali aku tahu itu. Kecewa pasti akan selalu membekas dihati, sepersekian persen paling tidak.
Maaf teman baikku. Maaf...

Aku kecewa. Kecewa bukan kepadamu. Bukan.
Aku kecewa terhadap diriku sendiri.

Aku dikecewakan. Bukan oleh kamu. Bukan.
Aku dikecewakan oleh diriku sendiri.

Aku mengecewakan. Ya.
Aku mengecewakan dirimu.



Closed : 23:51

Tidak ada komentar:

Posting Komentar